Artikel Terbaru

Lihat Semua →
Memuat artikel...

News

Wisata

Post Page Advertisement [Top]


FMPP ( News ) 

Gemuruh air di Bendung Cipero, Desa Kedungjati, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal, seharusnya menjadi suara kehidupan. Air mengalir melalui jaringan irigasi, membasahi ribuan hektare sawah dan menghidupi keluarga petani.

Namun sejak bendung itu jebol pada Maret 2026, suara tersebut berubah menjadi alarm bagi petani Tegal Timur.

Sampai pertengahan April, perbaikan permanen belum juga terwujud. Yang tersisa adalah upaya-upaya darurat yang berkali-kali kalah oleh derasnya arus dan musim hujan.

Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi penting: mengapa kerusakan infrastruktur irigasi vital baru ditangani secara serius setelah dampaknya mulai dirasakan petani?

Tanggul Darurat Berkali-kali Roboh

Sekretaris Kecamatan Warureja, Kasnawi, S.IP., M.M., membenarkan kerusakan tersebut. Menurutnya, sejak bendung jebol, pemerintah kecamatan telah melaporkan kondisi itu kepada Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWS Pemali Juana.

Koordinasi pun dilakukan.

Tetapi solusi awal yang ditempuh masih bersifat sementara: memasang pagar bambu untuk menahan aliran air.

Upaya itu ternyata tidak mampu bertahan.

“Musim hujan datang. Pagar bambu nggak kuat menahan derasnya air, jebol lagi,” ujar Kasnawi, Kamis (28/8/2026).

Batang pohon kelapa atau glugu kemudian digunakan sebagai alternatif. Lagi-lagi, arus air membuktikan bahwa solusi darurat memiliki keterbatasan.

Bendung yang membutuhkan penanganan konstruksi justru harus berkali-kali ditahan dengan material sementara.

Kini BBWS mulai mengerahkan penanganan yang lebih serius. Alat berat didatangkan dari Jakarta untuk memasang besi beton dan plat baja di titik kerusakan.

Pertanyaan berikutnya: apakah langkah tersebut cukup untuk menjamin Bendung Cipero kembali berfungsi sebelum musim tanam berikutnya?

Ketika Infrastruktur Rusak, Petani yang Membayar Harganya

Dampak kerusakan tidak berhenti pada bangunan bendung.

Air irigasi yang terputus berarti sawah kehilangan pasokan pada masa yang menentukan. Petani Warureja dan Suradadi menjadi kelompok yang paling merasakan akibatnya.

Abdul Kirom, tokoh masyarakat Desa Kedungjati, menggambarkan kondisi di lapangan secara gamblang.

“Air irigasi dari Cipero mati. Sawah kekeringan, padi tidak bisa tumbuh.”

Kalimat tersebut menunjukkan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar kerusakan infrastruktur.

Di balik setiap petak sawah yang kering terdapat biaya produksi, tenaga kerja, utang modal, kebutuhan keluarga, dan harapan petani terhadap hasil panen. 

                   Kirom, tokoh masyarakat 

Wargo, 60 tahun, warga Dukuh Macan Ucul, Warureja, bahkan mengaku aktivitas petani praktis terhenti.

“Sekarang nggak bisa aktivitas di sawah. Teman-teman petani semua nganggur. Padahal itu satu-satunya mata pencaharian kami.”

Inilah titik kritisnya.

Ketika bendung tidak berfungsi, yang kehilangan fungsi bukan hanya saluran air, tetapi juga roda ekonomi masyarakat desa.

Sudah Lama Minta Normalisasi

Keluhan masyarakat ternyata tidak semata-mata muncul setelah bendung jebol.

Abdul Kirom menyebut petani sudah lama meminta normalisasi. Sedimentasi disebut membuat kapasitas tampungan berkurang, sementara bendung telah berusia puluhan tahun.

Jika benar demikian, maka persoalannya patut dilihat dari perspektif yang lebih panjang.

Apakah pemeliharaan dan normalisasi telah dilakukan secara berkala?

Apakah kondisi struktur bendung sebelumnya sudah masuk kategori rawan?

Dan apakah sistem mitigasi sudah disiapkan sebelum kerusakan berubah menjadi bencana bagi sektor pertanian?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka oleh pihak-pihak yang memiliki kewenangan.

Sebab infrastruktur publik bukan hanya soal membangun, tetapi juga memastikan bangunan tersebut tetap berfungsi ketika masyarakat paling membutuhkannya.

Pemkab Turun, Tetapi Bola Ada di Tangan Siapa?

Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, telah meninjau langsung lokasi kerusakan. Pemerintah daerah juga mendorong agar perbaikan permanen segera dilakukan.

Namun Bendung Cipero berkaitan dengan sistem irigasi yang kewenangannya tidak seluruhnya berada di tangan pemerintah kabupaten.

Karena itu, koordinasi antara Pemkab Tegal dan BBWS Pemali Juana menjadi sangat menentukan.

Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar kunjungan, rapat koordinasi, atau solusi sementara.

Petani membutuhkan kepastian: kapan air kembali mengalir?

Kemarau Memperbesar Krisis

Ironisnya, persoalan Cipero muncul ketika ancaman kekeringan juga mulai membayangi masyarakat.

Ketika irigasi bermasalah, persoalan kemudian merembet menjadi kebutuhan air bersih.

Pemkab Tegal telah meminta bantuan PMI Kabupaten Tegal. Distribusi air bersih telah dilakukan ke lima desa yang masuk wilayah rawan. Sementara Kodim 0712 Tegal berencana membuat sumur bor di Desa Rangimulya.

Artinya, satu persoalan infrastruktur irigasi dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang jauh lebih luas.

Sawah kehilangan air.

Petani kehilangan pekerjaan.

Warga menghadapi ancaman kekurangan air bersih.

Dan pemerintah harus mengeluarkan sumber daya tambahan untuk merespons dampaknya.

Cipero Bukan Sekadar Bendung

Bendung Cipero adalah salah satu simpul penting kehidupan masyarakat Tegal Timur.

Karena itu, membiarkan persoalan ini berlarut-larut bukan sekadar persoalan teknis konstruksi. Ada persoalan ketahanan pangan, ekonomi rumah tangga petani, dan keberlangsungan mata pencaharian masyarakat yang ikut dipertaruhkan.

Pemerintah memang sudah bergerak.

Tetapi ukuran keberhasilan bukan seberapa banyak rapat digelar atau alat berat didatangkan.

Ukuran keberhasilannya jauh lebih sederhana:

air kembali mengalir ke sawah, petani kembali bekerja, dan musim tanam tidak kembali menjadi taruhan.

Kini publik berhak mendapatkan penjelasan yang terang: apa penyebab kerusakan Bendung Cipero, mengapa kerusakan belum tertangani secara permanen, bagaimana kondisi infrastrukturnya selama ini, dan kapan tepatnya perbaikan permanen selesai?

Sebab bagi petani Warureja dan Suradadi, waktu bukan sekadar tanggal di kalender.

Setiap hari tanpa air adalah potensi kehilangan panen. Dan setiap musim tanam yang gagal berarti semakin banyak keluarga yang kehilangan sumber penghidupan.

Cipero harus kembali hidup.

Bukan hanya demi sebuah bendung, tetapi demi ribuan petani yang menggantungkan hidupnya pada aliran air dari sana. (***) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]